Loading...

Thursday, May 28, 2009

Jika Memiliki Spiritual yang Kuat, Kalian Tak Akan Dapat Dipecah-belah

Dari antek-antek dan orang-orang bayaran imperialis di tengah dunia Islam, sebagian mengenakan pakaian intelektual, sebagian bermain di panggung politik, sebagian berbaju orang-orang sufi dengan ide-ide kolotnya, sebagian bergelut dengan khurafat dan takhayul, dan tidak sedikit yang berpakaian ulama dan mufti. Mereka semua berbuat untuk kepentingan musuh dan imperialisme. Karena itu mereka tidak bisa diharapkan untuk bersatu. Umat Islam harus melangkah sendiri untuk memupuk persatuan tanpa menghiraukan bisikan yang ingin memecah-belah.


Lebih dari 150 tahun, para ulama dan tokoh dunia Islam menyuarakan pentingnya persatuan umat Islam. Sebab persatuan adalah kunci paling penting bagi keberhasilan umat Islam dalam menghadapi serangan musuh, khususnya kaum imperialis dan arogan Barat. Jika kita perhatikan secara mendalam kata-kata Imam Khomeini r.a tentang persatuan, akan kita dapati betapa beliau menaruh perhatian yang sangat besar pada masalah persatuan umat.

Persatuan atau wahdah adalah ungkapan yang mudah diucapkan, namun untuk menerapkannya banyak sekali hambatan yang merintangi. Sayangnya, masyarakat Islam dalam praktiknya sering gagal mengejawantahkan ungkapan-ungkapan yang ringan seperti ini. Salah satu contohnya adalah masalah persatuan. Sudah lebih dari 150 tahun para tokoh dan pemimpin dunia Islam yang bijak menyerukan persatuan, tetapi sampai saat ini persatuan tersebut belum terwujud, sehingga masyarakat Islam nampak lemah di hadapan musuh dan inilah yang melahirkan banyak kesulitan besar bagi mereka. Tentunya yang kami maksud dari masyarakat Islam meliputi semua lapisan termasuk ulama, intelektual, politikus, penguasa... sampai rakyat kecil yang kesemuanya adalah bagian dari masyarakat Islam.

Tak syak bahwa di antara masyarakat muslim ini tentu ada orang-orang yang mengerti benar makna persatuan dan berusaha keras mewujudkannya. Sayangnya, bila kita ingin mengevaluasi raport dari upaya yang dilakukan sepanjang sejarah untuk mewujudkan persatuan, dan apabila kita hendak menilai hasil dari upaya mempersatuan umat, akan kita dapati betapa jauhnya jarak antara kondisi yang dengan target yang semestinya.

Perpecahan adalah petaka paling besar yang dialami dunia Islam. Akibatnya, musuh memanfaatkan kondisi ini untuk melakukan pukulan telak terhadap kaum muslimin. Mereka dengan mudah menyerang dan menduduki negeri-negeri muslim, merampok kekayaannya, serta menghapuskan budayanya. Semakin hari, musuh semakin berani menginjak harga diri umat Islam, dan di banyak negeri muslim, mereka membentuk pemerintahan boneka yang dapat dipermainkan semaunya.

Jika memerhatikan kata-kata serta perilaku politik dan sosial Imam Khomeini dengan seksama, akan kita dapati bahwa seruan beliau tentang persatuan bukan hanya pesan etis, budaya dan sosial semata, tetapi beliau meyakini sebagai salah satu strategi terbesar dalm metode politik paling ampuh untuk menguatkan umat Islam dalam menghadapi musuh dan menghalangi agresi asing. Karena itu, wajar jika sejak ratusan tahun yang lalu, musuh selalu mengarahkan bidikannya kepada persatuan dan senantiasa berusaha memecah-belah umat ini. Mereka meyakini bahwa cara itu adalah strategi paling jitu untuk melumpuhkan umat Islam dan selanjutnya menguasai negeri-negeri muslim serta menerapkan semua program imperialismenya.

Sangat mengherankan, umumnya masyarakat muslim belum menyadari benar pentingnya strategi ini yang telah menghancurkan dunai Islam mereka selama kurang lebih 200 tahun dan selama itu pula tidak berhasil merapatkan barisan dan menjalin persatuan antara mereka. Sungguh mengherankan, umat Islam belum berhasil mewujudkan persatuan yang terorganisir dan kini setelah lebih dari 150 tahun, tidak adanya persatuan masih menjadi problema terbesar dunia Islam.

Di sinilah letak pertanyaan besar, mengapa musuh berhasil mewujudkan strategi mereka untuk memecah-belah, sementara kita belum sukses menjalankan strategi persatuan kita?

Fakta menunjukkan bahwa saat ini musuh masih berada di atas angin berkat adanya perpecahan di tengah umat Islam. Sementara kaum muslimin masih bergelut dengan konflik antar mereka sehingga gagal menerapkan strategi persatuan. Dengan kata lain, dengan tangan sendiri kita telah menyerahkan nasib kepada musuh sehingga mereka dapat menundukkan kita. Kondisi ini akan terus berlanjut sampai kita berhasil membalik perimbangan yang ada dan mewujudkan persatuan sehingga dapat menekuk musuh. Saat itulah kita baru dapat mengatakan bahwa strategi persatuan berhasil kita jalankan dengan baik.

Terkadang musuh mengukir keberhasilan yang sangat gemilang dalam menciptakan perpecahan di tengah masyarakat Islam, sehingga umat Islam tidak hanya saling acuh akan nasib masing-masing tetapi bahkan saling berseteru dan berperang. Saat itulah musuh akan merasa sangat puas karena berhasil menjalankan strategi dengan baik. Kondisi itu sudah terjadi pada era modern ini dengan tanda-tandanya yang masih bisa kita saksikan dan rasakan. Dengan berbagai cara licik dan tipu daya serta dana yang besar, musuh berusaha sebisa mungkin untuk menyulut perang partisan di tengah umat Islam. Dengan cara itu mereka berharap dapat menghalangi bangkitnya kembali kekuatan Islam. Musuh tidak akan tinggal diam, tetapi akan terus berbuat untuk menjalankan strateginya dengan mengerahkan semua kemampuan politik, militer, media, dan ekonominya. Sebab kelangsungan imperialisme mereka tergantung pada strategi ini.

Antek-antek dan boneka-boneka musuh tidak bisa diharapkan untuk menghentikan pekerjaan mereka sebagai orang bayaran musuh. Mereka adalah kelompok yang oleh musuh dijadikan sebagai alat paling ampuh dalam menebar perpecahan. Lebih dari itu, mereka juga dimanfaatkan untuk menyulut perang partisan di tengah umat. Antek-antek dan boneka musuh ini hanya bisa hidup dengan cara itu. Mereka berasal dari tengah umat dan memakai pakaian yang sama dengan kaum muslimin lainnya. Dengan bahasa umat Islam mereka menyampaikan kata-kata dan pemikiran musuh. Mereka memberikan resep-resep palsu dan berbahaya kepada masyarakat Islam, serta memalingkan umat dari musuh yang sebenarnya. Tujuannya adalah untuk memecah belah kaum muslimin dan menyulut konflik antar golongan.

Karena itu wajar jika kita berkesimpulan bahwa antek-antek dan boneka musuh tidak akan melakukan tindakan apapun selain pengkhianatan terhadap umat. Setiap kali mendapat kesempatan atau memperoleh instruksi dari tuan-tuannya, mereka akan mengorbankan semua hal termasuk agama, tanah air dan kehormatan sosial dan individunya untuk berbakti kepada musuh. Untuk perbuatan ini, mereka selalu memiliki justifikasi. Sayangnya, orang-orang seperti ini ada di setiap kalangan dan dengan mengenakan semua pakaian.

Sebagian tampil dalam bentuk intelektual dengan ide-ide demokrasi untuk menutupi aktivitasnya sebagai bayaran musuh. Sebagian bermain di panggung politik, budaya dan kemasyarakatan dengan menjalankan program-program pengkhianatannya. Sebagian berbaju orang-orang sufi dengan ide-ide kolotnya, sementara perilakunya hanya untuk menyenangkan kaum imperialis. Tak sedikit yang berbuat untuk kepentingan musuh melalui cara bermain dengan khurafat dan takhayul. Dan yang menyedihkan tak jarang kita temukan antek-antek imperialis yang berpakaian ulama dan mufti, padahal yang mereka lakukan hanya mengadu domba sesama muslim.

Rezim-rezim dan penguasa yang menjadi boneka imperialis dan musuh Islam serta bergerak hanya dengan isyaratnya, tak dapat diharapkan untuk berbuat sesuatu demi persatuan umat. Karena itu, yang bisa kita harapkan adalah mereka yang tidak memiliki ikatan apapun dengan musuh. Mereka lah yang dapat diajak mengikuti strategi persatuan. Mereka adalah umumnya umat Islam, karena mayoritas mereka tidak memiliki kaitan apapun dengan musuh dan kaum imperialis. Untuk melaksanakan strategi persatuan, yang harus dilakukan pertama kali adalah menyadarkan umat akan pentingnya persatuan, dan kedua menanamkan kepada mereka agar memiliki semangat ketuhanan dan tujuan ilahi.

Jika manusia menyakini kebenaran sesuatu secara penuh dan dengan kesadaran, tentu ia akan bergerak ke arahnya. Hanya saja, semua itu harus didahului dengan makrifat dan spiritual. Jika seseorang memiliki semangat dan dorongan ilahi, saat melangkah ke arah persatuan, dia tidak hanya jauh dari bayangan kepentingan duniawi dan subyektifitas tetapi juga tidak akan termakan oleh bisikan dan fitnah yang ingin memecah belah kesatuan. Dia akan mampu membedakan bisikan syetan dari ajakan ilahi.

Imam Khomeini meyakini bahwa di tengah gemuruh suara musuh yang menyerukan perpecahan, maktifat dan spiritual tinggi adalah penyelamat terbaik yang dapat melindungi manusia dari keterpurukan ke dalam jebakan syetan. Imam Khomeini dalam hal ini mengatakan,

‘Kita harus mengupayakan pengukuhan persatuan kita. Jangan sampai rakyat dan pemerintah berpikiran adanya perbedaan antara keduanya. Semuanya milik satu karavan yang berjalan menuju ke satu alam. Kita semua harus taat kepada perintah Allah dan harus bersama-sama. Jika itu berhasil kita lakukan, kemenangan bukan hal yang sulit dan akan kita raih. Kemenangan yang diberikan oleh Allah adalah pertolongan ilahi yang kita terima dengan sepenuh jiwa, sebab hadiah pemberian dari Allah. Namun jika tidak demikian –jangan sampai hal ini terjadi-, dan kita meraih kemenangan dengan kekuatan pedang atau senapan, ketahuilah bahwa itu bukan kemenangan, tetapi kekalahan. Kalian mengira ia sebagai kemenangan padahal jika tabir disinbgkap kalian akan mengetahui bahwa yang kalian dapatkan adalah kekalahan besar. Kita harus selalu bersatu. Sebab Allah swt memerintahkan kita untuk bersama dan bersatu. Dia melarang kita untuk bercerai. Kita harus menjalin persatuan. Persatuan sudah ada tetapi perlu untuk dipertahankan. Kita semua harus mempertahankan persatuan di antara kita. Caranya adalah dengan tidak menggubris kata-kata mereka yang menebar perpecahan. Di setiap tempat dan setiap masa selalu ada orang-orang yang ingin merusak. Tetapi ketika sebuah bangsa memupuk persatuan untuk Allah dan bersatu dengan yang lain, bangsa itu tidak akan mendengarkan bisikan para penebar fitnah dan permusuhan.“

“Orang yang akan termakan oleh bisikan yang merusak adalah orang yang jiwanya lemah dari sisi spiritual dan ketuhanan. Jika ada kelemahan seperti ini, saat itulah kata-kata asing akan mempengaruhi. Pengaruh itu akan membesar sedikit demi sedikit, sehingga pada akhirnya seseorang akan terjerumus ke dalam apa yang dibisikkan kepadanya. Namun bila kita menguatkan sisi spiritual dan ketuhanan, dan secara nyata meyakini kita berasal dari Allah, berbuat untuk Allah dan kepadaNya akan kembali, kita akan tunduk kepada perintahNya. Dia memerintahkan kita untuk bersatu. Dengan persatuan tidak ada yang dapat menggangu kalian. Kita harus bersatu dan harus taat kepda perintah Allah.” (Sahifah Imam jilid 19 halaman 206-207)

Di zaman yang sangat menentukan bagi dunia Islam saat ini, dengan pengetahuan dan makrifat yang didapatkan berkat penguatan sisi spiritual, umat Islam secara umum diharap, untuk tidak menggubris suara-suara menyesatkan yang ingin menebar fitnah perpecahan. Umat Islam harus menggagalkan tipu daya kaum imperialis dan penebar fitnah.

* Imam Khomeini, “Kita harus menjalin persatuan. Persatuan sudah ada tetapi perlu untuk dipertahankan. Kita semua harus mempertahankan persatuan di antara kita. Caranya adalah dengan tidak menggubris kata-kata mereka yang menebar perpecahan. Di setiap tempat dan setiap masa selalu ada orang-orang yang ingin merusak. Tetapi ketika sebuah bangsa memupuk persatuan untuk Allah dan bersatu dengan yang lain, bangsa itu tidak akan mendengarkan bisikan para penebar fitnah dan permusuhan. Orang yang akan termakan oleh bisikan yang merusak adalah orang yang jiwanya lemah dari sisi spiritual dan ketuhanan. Jika ada kelemahan seperti ini, saat itulah kata-kata asing akan mempengaruhi.”

** Lebih dari 150 tahun, para ulama dan tokoh dunia Islam menyuarakan pentingnya persatuan umat Islam. Sebab persatuan adalah kunci paling penting bagi keberhasilan umat Islam dalam menghadapi serangan musuh, khususnya kaum imperialis dan arogan Barat. Jika kita perhatikan secara mendalam kata-kata Imam Khomeini r.a tentang persatuan, akan kita dapati betapa beliau menaruh perhatian yang sangat besar pada masalah persatuan umat.

*** Perpecahan di dunia Islam adalah kunci kemenangan bersejarah musuh atas umat Islam. Selama perimbangan ini belum dibalik, dunia Islam tidak akan lepas dari cengkeraman kekuasaan Barat. Karena itu umat Islam harus mencurahkan perhatian dan berusaha keras mengubah perimbangan yang ada. Kelompok-kelompok perjuangan Islam yang memiliki cita-cita Islam yang mulia, dengan tulus memikirkan musuh yang sama serta meninggalkan perselisihan dan mengumbar perbedaan partisan.

**** Dari antek-antek dan orang-orang bayaran imperialis di tengah dunia Islam, sebagian mengenakan pakaian intelektual, sebagian bermain di panggung politik, sebagian berbaju orang-orang sufi dengan ide-ide kolotnya, sebagian bergelut dengan khurafat dan takhayul, dan tidak sedikit yang berpakaian ulama dan mufti. Mereka semua berbuat untuk kepentingan musuh dan imperialisme. Karena itu mereka tidak bisa diharapkan untuk bersatu. Umat Islam harus melangkah sendiri untuk memupuk persatuan tanpa menghiraukan bisikan yang ingin memecah-belah.





No comments: