Loading...

Friday, January 1, 2010

Ahlul Bait as (Keluarga Nabi Muhammad saw) Bintang Gemintang

Karakteristik Bintang:

1. Bintang merupakan sarana untuk mendapatkan petunjuk. Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang-bagimu, agar engkau mendapat petunjuk. (QS. al-An`am:97)

2. Bintang merupakan hiasan langit. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang gemintang. (QS. ash-Shaffat:6)

3. Bintang patuh kepada perintah Allah Swt. Dan bintang-bintang pun tunduk kepada perintah-Nya. (QS. an-Nahl:12)

4. Bintang mempunyai kedudukan istimewa di alam semesta. Maka Aku bersumpah dengan tempat bintang-bintang. Sungguh sumpah ini adalah sumpah yang sangat besar. (QS. al-Waqi`ah:75-76)

5. Bintang menembus kegelapan. Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah engkau apakah yang datang pada malam hari itu? (Yaitu) bintang yang cahayanya menembus (kegelapan). (QS. ath-Thariq:1-3)

6. Bintang sebagai alat pengusir setan. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan untuk memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka. (QS. ash-Shaffat:6-7)

7. Setiap ada bintang yang terbenam maka ada bintang lain yang terbit. Imam Ali as berkata, “Perumpamaan keluarga Muhammad sama seperti bintang geminta di langit. Setiap ada bintang yang terbenam maka ada bintang lain yang terbit.”


Penyerupaan Keluarga Muhammad dengan Bintang Gemintang:

1. Sebagaimana bintang memberikan petunjuk kepada orang yang tersesat maka keluarga Nabi Muhammad saw pun memberikan petunjuk kepada masyarakat manusia dan menyelamatkan mereka dari kezaliman, kebodohan, dan kebingungan.

2. Sebagaimana bintang merupakan perhiasan langit maka keluarga Nabi Muhammad saw merupakan perhiasan agama.
Jika sejarah hanya berisi sejarah kehidupan orang-orang jahat dan tidak mencatat sejarah kehidupan keluarga Nabi Muhammad saw, sudah tentu sejarah mempunyai wajah yang buruk. Jika dunia kosong dari para nabi dan kekasih Allah Swt, dan hanya menjadi tempat hidup orang-orang jahat, maka dunia manusia akan mempunyai rupa yang buruk.

3. Sebagaimana bintang-bintang tunduk kepada perintah Allah Swt dan gerakannya berdasarkan keinginan-Nya, demikian pula dengan keluarga Nabi Muhammad saw. Artinya, pikiran, alunan zikir, berdiri dan duduk mereka senantiasa berada dalam poros penghambaan diri kepada Allah Swt.

4. Tiap-tiap bintang mempunyai kedudukan yang khusus. Demikian pula dengan keluarga Nabi Muhammad saw. Masing-masing dari mereka berbuat sesuai dengan tempat dan keadaan masing-masing. Sebagai contoh, Imam Hasan as menghidupkan Islam melalui perdamaian sementara Imam Husain as dengan perang.

5. Bintang-bintang menyibak kegelapan sehingga sirna dengan cahayanya. Demikian pula dengan keluarga Nabi Muhammad saw. Mereka menembus dan menerangi hati-hati manusia yang gelap dengan ilmu dan cahaya.

6. Bintang-bintang adalah alat untuk mengusir setan. Ketika setan hendak menembus kawasan suci wahyu, mereka mendapat serangan batu-batu meteor yang tajam. Demikian pula dengan keluarga Nabi Muhammad saw. Mereka adalah permata dunia Islam. Namun pada saat yang diperlukan mereka bisa menjadi halilintar yang dapat menghancurkan kehidupan orang-orang zalim. Sebagaimana yang telah dilakukan Imam Ali as terhadap Muawiyah dan Imam Husain as terhadap Yazid.

7. Pada saat ada bintang yang terbenam maka ada bintang lain yang terbit. Demikian pula dengan keluarga Nabi Muhammad saw. Pada saat seorang keluarga Nabi Muhammad saw meninggal dunia, ada yang menggantikannya dan meneruskan cita-citanya.

2 comments:

elfizonanwar said...

Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan kebrkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW. Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya jadi mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

Coba baca catatan kaki dari kitab: Al Quran dan Terjemahannya, maka ahlulbaik yaitu hanya ruang lingkup keluarga rumah tangga MUHAMMAD RASULULLAH SAW. Rumah tangga Nabi Muhammad SAW itu yang bagaimana?

Dan jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka ruang lingkup ahlul bait tersebut sifatnya universal menjadi:

1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg 'nabi' sudah meninggal terlebih dahulu.

2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau 'anak tunggal' dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

3. Isteri-isteri beliau.

4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, ada anak lelaki pula, wah ini masalah pewaris tahta 'ahlul bait' akan semakin seru. Mungkin inilah salah satu mukjizat atau hikmah, mengapa Saidina Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai dewasa dan berketurunan?. Pasti, perebutan tahta ahlul baitnya akan semakin dahsyat jadinya.

Bagaimana tentang pewaris tahta 'ahlul bait' dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita nasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah, ya jika merujuk pada Al Quran tidak bisalah.

Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka ya seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

Jadi sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari kembali ke nasab laki-laki.

SYEKH BLOGGER said...

Mari kita simak bersama link ini. Semoga Allah membuka tabir-tabir yang menutupi Kebenaran Nya & menolong kita menyusuri jalan menuju haribaan Nya. Wasalam.

http://syekhblogger.blogspot.com/2012/04/every-day-is-ashura-and-every-land-is.html