Loading...

Saturday, November 27, 2010

SUARA PEMIMPIN (16) : Prinsip-Prinsip Pemikiran Politik

Prinsip-Prinsip Pemikiran Politik Imam Khomeini ra

Saya ingin menekankan pemikiran politik Imam Khomeini ra. Ide politik Imam Khomeini ra tidak terpisahkan dari pribadi beliau yang penuh daya tarik. Rahasia keberhasilan Imam Khomeini ra terletak pada pemikiran politiknya yang terpersonifikasikan dalam sebuah sistem yang disaksikan oleh seluruh mata masyarakat dunia. Tentu saja Revolusi Besar Islam Iran mencapai kemenangan dengan perantara masyarakat. Bangsa Iran telah menunjukkan puncak kemampuan dan segala potensinya. Namun tanpa Imam Khomeini ra dan pemikiran politiknya, bangsa Iran tidak mampu melakukan pekerjaan besar semacam ini. Ide politik Imam Khomeini membuka sebuah wacana yang bahkan jangkauannya lebih luas dari hanya sekedar membentuk sistem pemerintahan Islam.

Pemikiran politik yang ditawarkan, diperjuangkan dan direalisasikan oleh Imam Khomeini ra wacana dan solusi baru bagi umat manusia dan dunia. Ada berbagai hal dalam pemikiran Imam Khomeini ra yang dibutuhkan umat manusia. Oleh karenanya, ia tidak akan pernah usang.

Orang-orang yang berusaha mengenalkan Imam Khomeini ra sebagai pribadi yang terkait dengan sejarah dan hanya bagian dari masa lalu, tidak akan berhasil dalam usahanya. Imam Khomeini ra senantiasa hidup dalam pemikiran politiknya. Selama ajaran politiknya hidup, maka kehadiran dan keberadaan Imam Khomeini ra di antara umat Islam bahkan di antara umat manusia menjadi sumber karya besar dan abadi.

Pemikiran politik Imam Khomeini ra memiliki sejumlah indikator. Kini saya akan menjelaskan beberapa poin penting dari ide-ide ini.

Pertama, dalam ajaran politik Imam Khomeini ra spiritual dan politik berkelindan erat tak terpisahkan. Politik dalam pemikiran Imam Khomeini ra tidak terpisahkan dari spiritual, tidak terpisahkan dari irfan dan tidak terpisahkan dari moral. Sebagai simbol pemikiran politiknya, Imam Khomeini ra juga berpolitik sekaligus menjaga nilai-nilai moral. Imam Khomeini ra benar-benar menjaga masalah ini. Di masa perjuangan politiknya Imam Khomeini ra memfokuskan masalah spiritual dalam perilakunya. Seluruh perilaku Imam Khomeini ra selalu bersandar pada Allah dan spiritual. Imam Khomeini ra yakin akan kehendak tasyri’i Allah dan menyandarkan diri pada sunnah ilahi. Beliau benar-benar yakin bahwa seseorang yang bangkit untuk mewujudkan syariat ilahi, pasti hukum alam dan sunnah ilahi akan membantunya. Imam Khomeini percaya bahwa “Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. 48:4).

Imam menjadikan hukum-hukum syariat sebagai basis gerakannya. Gerakan Imam Khomeini ra untuk kebahagiaan negara dan bangsa Iran berdasarkan bimbingan syariat Islam. Oleh karenanya, “taklif ilahi” (kewajiban ilahi) merupakan kunci kebahagiaan bagi Imam Khomeini ra yang berhasil menyampaikan beliau mencapai tujuan dan cita-cita besarnya.

Kedua, keyakinan yang kuat dan tulus akan peran rakyat, kehormatan manusia dan kehendak manusia. Dalam ajaran politik Imam Khomeini ra jati diri manusia selain berharga dan memiliki kemuliaan, ia juga kuat dan berguna. Hasil dari kemuliaan dan kehormatan manusia dalam menentukan nasib manusia dan sebuah masyarakat menjadikan suara rakyat punya peran mendasar dalam pemikiran politik Imam Khomeini ra. Oleh karenanya, demokrasi dalam ajaran politik Imam Khomeini ra yang diambil dari teks Islam adalah demokrasi hakiki. Tidak seperti demokrasi Amerika dan sebagainya yang hanya gembar-gembor, menipu dan memperdaya benak manusia.

Ketiga, ajaran politik Imam Khomeini ra bersifat global dan internasional. Dalam ucapan dan ide politiknya Imam Khomeini ra berbicara dengan umat manusia dan tidak dibatasi hanya dengan rakyat Iran saja. Bangsa Iran telah mendengarkan pesan Imam Khomeini ra dengan telinga hatinya kemudian berdiri tegak, berjuang dan berhasil mencapai kemuliaan dan kemerdekaanya. Perlu dicamkan bahwa ajaran Imam Khomeini ra untuk seluruh umat manusia. Pemikiran politik Imam Khomeini ra menginginkan kebaikan, kemerdekaan, kemuliaan dan keimanan bagi semua umat Islam dan umat manusia. Ini sekaligus risalah yang dibebankan di atas pundak setiap muslim.

Bedanya Imam Khomeini ra dengan mereka yang mengaku membawa misi untuk seluruh dunia terletak pada satu kenyataan penting. Pemikiran politik Imam Khomeini ra tidak ingin meyakinkan sebuah bangsa akan ide dan jalan beliau dengan perantara artileri, tank, senjata dan penyiksaan.

Orang-orang Amerika juga mengatakan, “Kami punya misi di dunia untuk memperluas hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi.” Cara memperluas demokrasi dengan menggunakan bom atom di Hiroshima?! Menggunakan artileri dan tank, mengobarkan peperangan dan melakukan kudeta di Amerika Latin dan Afrika?! Kini Timur Tengah menyaksikan segala kecurangan, penipuan, kezaliman dan kejahatan. Dengan cara-cara ini mereka ingin memperluas hak-hak asasi manusia dan misi globalnya?! Pemikiran politik Islam tersebar ke dalam benak manusia lewat pemikiran yang benar dan ucapan baru dengan penjelasan argumentatif. Akhirnya, bagaikan hembusan angin sepoi-sepoi dan bau semerbak harum bunga pemikiran ini menyebar ke segala penjuru dunia.

Poin keempat dari pemikiran politik Imam Khomeini ra berkenaan dengan pembelaan atas nilai-nilai. Contoh jelasnya ketika Imam Khomeini ra menjelaskan masalah Wilayah Faqih. Sejak awal Revolusi Islam Iran, kemenangan revolusi hingga pembentukan sistem pemerintahan Islam, betapa banyak orang yang berusaha memperkenalkan masalah wilayah fakih secara tidak benar, buruk dan bertentangan dengan kenyataan. Akhirnya muncul berbagai kesimpulan yang tidak sesuai dengan kenyataan, kebohongan, berbagai kecenderungan dan harapan yang tidak sesuai dengan teks sistem politik Islam dan pemikiran politik Imam Khomeini ra.

Bila terkadang kalian mendengar propaganda-propaganda menarik para musuh yang menyebarkan ucapan-ucapan semacam ini, maka ketahuilah bahwa masalah ini tidak hanya terjadi di masa kini, tapi sejak awal revolusi kelompok, kader dan berbagai propaganda pihak lain telah menyatakan omongan seperti ini.

Poin kelima dari pemikiran politik Imam Khomeini ra sekaligus poin terakhir yang akan saya sampaikan terkait masalah keadilan sosial. Keadilan sosial merupakan poin terpenting dan utama dalam ajaran politik Imam Khomeini ra. Di seluruh program negara baik dari pembuatan undang-undang dan pelaksanaan hingga masalah peradilan, keadilan sosial dan penghapusan kesenjangan sosial harus menjadi perhatian dan tujuan.

Petikan dari pidato Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam acara lima belas tahun wafatnya Imam Khomeini ra. 3/6/2004 (14/3/1383)

No comments: