Loading...

Wednesday, January 4, 2012

Jurus Sakti “PECAH BELAH” SESAMA KELOMPOK ISLAM ala RAND Corporation

Penulis :
Hendrajit (Direktur Eksekutif Global Future Institute) dan
Ferdiansyah Ali (Manajer Program dan Peneliti Global Future Institute).


Entah bocor, atau sengaja dibocorkan guna membentuk opini, atau cuma sekedar deception, atau lainnya -- entahlah! Yang jelas, dekade 2003-an muncul dokumen RAND Corporation berjudul:"CIVIL DEMOCRATIC ISLAM: Partners, Resources and Strategies".

RAND Corp adalah Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah atas biaya Smith Richardson Foundation, berpusat di Santa Monica-California dan Arington-Virginia, Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya perusahaan bidang kedirgantaraan & persenjataan Douglas Aircraft Company di Santa Monica-California, namun entah kenapa beralih menjadi think tank (dapur pemikiran) dimana dana operasional berasal dari proyek-proyek penelitian pesanan militer.

Garis besar dokumen Rand berisi kebijakan AS dan sekutu di Dunia Islam. Inti hajatannya adalah mempeta-kekuatan(MAPPING), sekaligus memecah-belah dan merencanakan konflik internal di kalangan umat Islam melalui berbagai (kemasan) pola, program bantuan, termasuk berkedok capacity building dan lainnya.

Sedang dokumen lain senada, terbit Desember tahun 2004 dibuat oleh Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Inteligent Council) atau NIC bertajuk Mapping The Global Future. Tugas NIC ialah meramal masa depan dunia.

Tajuk NIC di atas pernah dimuat USA Today, 13 Februari 2005 -- juga dikutip oleh Kompas edisi 16 Februari 2005.

Inti laporan NIC tentang perkiraan situasi tahun 2020-an. Rinciannya ialah sebagai berikut:
(1) Dovod World: Kebangkitan ekonomi Asia, dengan China dan India bakal menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia;

(2) Pax Americana: Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS;

(3) A New Chaliphate: Bangkitnya kembali Khilafah Islamiyah, yakni Pemerintahan Global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat; dan

(4) Cycle of Fear: Muncul lingkaran ketakutan (phobia). Yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia -- kekerasan akan dibalas kekerasan.

Jujur harus diakui, ke-empat perkiraan NIC kini riil mendekati kebenaran terutama jika publik mengikuti "opini global" bentukan media mainstream yang dikuasai oleh Barat.

Isi dokumen NIC di atas menyertakan pandangan 15 Badan Intelijen dari kelompok Negara Barat.

Tahun 2008 dokumen ini direvisi kembali tentang perkiraan atas peran AS pada tata politik global.
Judulnya tetap Mapping The Global Future, cuma diubah sedikit terutama hegemoni AS era 2015-an diramalkan bakal turun meski kendali politik masih dalam cengkeraman.

Tahun 2007, Rand menerbitkan lagi dokumen Building Moderate Muslim Networks, yang juga didanai oleh Smith Foundation. Dokumen terakhir ini memuat langkah-langkah membangun Jaringan Muslim Moderat pro-Barat di seluruh dunia. Baik Rand maupun Smith Foundation, keduanya adalah lembaga berafiliasi Zionisme Internasional dimana para personelnya merupakan bagian dari Freemasonry-Illuminati, sekte Yahudi berkitab Talmud.


Gerakan tersebut memakai sebutan "Komunitas Internasional" mengganti istilah Zionisme Internasional. Maksudnya selain menyamar, atau mengaburkan, juga dalam rangka memanipulasi kelompok negara non Barat dan non Muslim lain. Pada gilirannya, kedua dokumen tadi diadopsi oleh Pentagon dan Departemen Luar Negeri sebagai basis kebijakan Pemerintah AS di berbagai belahan dunia.

Berikut ialah resume dari Agenda dan Strategi Pecah Belah yang termuat pada kedua dokumen tersebut, antara lain:

Pertama, Komunitas Internasional menilai bahwa Dunia Islam berada dalam frustasi dan kemarahan, akibat periode keterbelakangan yang lama dan ketidak-berdayaan komparatif serta kegagalan mencari solusi dalam menghadapi kebudayaan global kontemporer;

Kedua, Komunitas Internasional menilai bahwa upaya umat Islam untuk kembali kepada kemurnian ajaran adalah ancaman bagi peradaban dunia modern & bisa mengantarkan kepada Clash of Civilization (Benturan Peradaban);

Ketiga, Komunitas Internasional menginginkan Dunia Islam yang ramah terhadap demokrasi dan modernitas serta mematuhi aturan-aturan internasional untuk menciptakan perdamaian global;

Keempat, Komunitas Internasional perlu melakukan pemetaan kekuatan & pemilahan kelompok Islam untuk mengetahui siapa kawan & lawan, serta pengaturan strategi dengan pengolahan sumber daya yg ada di Dunia Islam;

Kelima, Komunitas Internasional mesti mempertimbangkan dengan sangat hati2terhadap elemen, kecenderungan, dan kekuatan2 mana di tubuh Islam yang ingin diperkuat; apa sasaran & nilai2 persekutuan potensial yang berbeda; siapa akan dijadikan anak didik; konsekuensi logis seperti apa yg akan terlihat ketika memperluas agenda masing2; & termasuk resiko mengancam, atau mencemari kelompok, atau orang2 yg sedang dibantu AS dan sekutunya;

Keenam, Komunitas Internasional membagi Umat Islam ke dalam Empat Kelompok, yaitu:
(1) Fundamentalis: kelompok masyarakat Islam yang menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat Kontemporer, serta menginginkan formalisasi penerapan Syariat Islam;
(2) Tradisionalis: kelompok masyarakat Islam Konservatif yang mencurigai modernitas, inovasi dan perubahan. Mereka berpegang kepada substansi ajaran Islam tanpa peduli kepada formalisasinya;
(3) Modernis: kelompok masyarakat Islam Modern yang ingin reformasi Islam agar sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga bisa menjadi bagian dari modernitas;
(4) Sekularis: kelompok masyarakat Islam Sekuler yang ingin menjadikan Islam sebagai urusan privasi dan dipisah sama sekali dari urusan negara.

Ketujuh, Komunitas Internasional menetapkan strategi terhadap tiap-tiap kelompok, sebagai berikut:

1) Mengkonfrontir dan menentang kaum fundamentalis dengan tata cara sebagai berikut:
(a) menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidak-akuratannya;
(b) mengungkap keterkaitan mereka dengan kelompok2 dan aktivitas2 illegal;
(c) mengumumkan konsekuensi dari tindak kekerasan yang mereka lakukan;
(d) menunjukkan ketidak-mampuan mereka untuk memerintah;
(e) memperlihatkan ketak-berdayaan mereka mendapatkan perkembangan positif atas negara & komunitas mereka; (f) mengamanatkan pesan2 tsb kpd kaum muda, masyarakat tradisionalis yg alim, kpd minoritas kaum muslimin di Barat, dan kepada wanita;
(g) mencegah menunjukkan rasa hormat & pujian akan perbuatan kekerasan kaum fundamentalis, ekstrimis & teroris; (h) kucilkan mereka sebagai pengganggu & pengecut, bukan sebagai pahlawan;
(i) mendorong para wartawan untuk memeriksa isu2 korupsi, kemunafikan, dan tak bermoralnya lingkaran kaum fundamentalis dan kaum teroris;
(j) mendorong perpecahan antara kaum fundamentalis.


2) Beberapa aksi Barat memojokkan kaum fundamentalis adalah dengan menyimpangankan tafsir Al-Qur'an,
contoh: mengharaman poligami pada satu sisi, namun menghalalkan perkawinan sejenis di sisi lain; meng-ulang2 tayangan aksi2 umat Islam yg mengandung kekerasan di televisi, sedang kegiatan konstruktif tidak ditayangkan; kemudian "mengeroyok" dan menyerang argumen narasumber dari kaum fundamentalis dengan format dialog 3 lawan 1 dan lainnya; lalu mempidana para aktivis Islam dengan tuduhan teroris atau pelaku kekerasan dan lain-lain.


3) Mendorong kaum tradisionalis untuk melawan fundamentalis, dengan cara:
(a) dalam Islam tradisional ortodoks banyak elemen demokrasi yang bisa digunakan counter menghadapi Islam fundamentalis yang represif lagi otoriter;
(b) menerbitkan kritik2 kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimisme yg dilakukan kaum fundamentalis;
(c) memperlebar perbedaan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis;
(d) mencegah aliansi kaum tradisionalis dan fundamentalis;
(e) mendorong kerja sama agar kaum tradisionalis lebih dekat dengan kaum modernis;
(f) jika memungkinkan, kaum tradisionalis dididik mempersiapkan diri agar mampu debat dengan kaum fundamentalis, karena kaum fundamentalis secara retorika sering lebih superior, sementara kaum tradisionalis melakukan praktek politik "Islam pinggiran" yang kabur;
(g) di wilayah seperti di Asia Tengah, perlu dididik & dilatih tentang Islam ortodoks agar mampu mempertahankan pandangan mereka;
(h) melakukan diskriminasi antara sektor-sektor tradisionalisme berbeda;
(i) memperuncing khilafiyah perbedaan antar madzhab, seperti Sunni - Syiah, Hanafi - Hambali, Wahabi - Sufi, dll;
(j) mendorong kaum tradisionalis agar tertarik pada modernisme, inovasi dan perubahan;
(k) mendorong mereka buat isu opini2 agama & populerkan hal itu utk perlemah otoritas penguasa yg terinspirasi paham fundamentalis;
(l) Mendorong popularitas dan penerimaan atas sufisme;


4) Mendukung sepenuhnya kaum modernis, dengan jalan:
(a) menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan biaya yang disubsidi;
(b) mendorong mereka untuk menulis bagi audiens massa dan bagi kaum muda;
(c) memperkenalkan pandangan-pandangan mereka dalam kurikulum pendidikan Islam;
(d) memberikan mereka suatu platform publik;
(e) menyediakan bagi mereka opini & penilaian pada pertanyaan2 yg fundamental dari interpretasi agama bagi audiensi massa dalam persaingan mereka dengan kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang memiliki Web Sites, dengan menerbitkan dan menyebarkan pandangan2 mereka dari rumah2, sekolahan, lembaga2 & sarana lainnya;
(f) posisikan sekularisme & modernisme sebagai sebuah pilihan "counterculture" kaum muda Islam yg tidak puas;
(g) fasilitasi & dorong kesadaran sejarah pra-Islam & non-Islam & budayanya, dimedia & kurikulum negara2 elevan; (h) bantu membangun organisasi2 sipil independen, untuk promosikan kebudayaan sipil (civic culture) & berikan ruang bagi rakyat biasa untuk didik diri sendiri mengenai proses politik & mengutarakan pandangan2 mereka.


Beberapa bukti tindakan program ini misalnya mengubah kurikulum di pesantren2 dgn biaya dari Barat, kemudian hembuskan dogma "Time is Money - pengeluaran se-kecil2nya menghasilkan pendapatan se-besar2-nya".

5) Tempo doeloe, pernah dalam mata pelajaran PMP dtampilkan gambar rumah ibadah masing-masing agama dengan tulisan dibawahnya: "semua agama sama".
Dirikan berbagai LSM yg bergerak dibid. kajian filsafat Islam, sebar artikel & tulisan produk LSM yg dibiayai Amerika. Intinya menyimpulkan semua agama adalah hasil karya manusia dan merupakan peradaban manusia. Tujuannya tak lain guna menggoyah keyakinan beragama, termasuk mendanai beberapa web site di dunia maya dan lainnya.

6) Mendukung secara selektif kaum sekularis, dengan cara:
(a) mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai musuh bersama;
(b) mematahkan aliansi dengan kekuatan2 anti Amerika berdasarkan hal2 seperti nasionalisme dan ideologi kiri;
(c) mendorong ide bahwa dalam Islam, agama dan negara dapat dipisahkan & hal ini tak membahayakan keimanan tetapi malah akan memperkuat.


7) Untuk jalankan Building Moderate Muslim Networks, AS & sekutu menyediakan dana bagi individu dan lembaga2 seperti LSM, pusat kajian di beberapa universitas Islam maupun universitas umum lain, serta bangun jaringan antar komponen utk memenuhi tujuan2 AS. Contoh keberhasilan: bangun jaringan ini ketika sponsori Kongres Kebebasan Budaya (Conggress of Cultural Freedom), dimana pertemuan ini berhasil bangun komitmen antar elemen membentuk jaringan anti komunis.

Hal serupa juga dilakukan dalam rangka membangun jaringan anti Islam. Kemudian membangun kredibilitas semu aktivis2 liberal pro-Barat, demi tercapai tujuan utama musuhi Islam secara total. Bahkan bila perlu, sikap tak setuju atas kebijakan AS sesekali diperlihatkan para aktivisnya se-olah2 independen, padahal hanya tampil pura-pura saja.

AS dan sekutu sadar, bahwa ia tengah terlibat dalam suatu peperangan total baik fisik (dengan senjata) maupun ide. Ia ingin memenangkan perang dengan cara: "ketika ideologi kaum ekstrimis tercemar di mata penduduk tempat asal ideologi itu dan di mata pendukung pasifnya".

Ini jelas tujuan dalam rangka menjauhkan Islam dari umatnya.

Muaranya adalah membuat orang Islam supaya tak berperilaku lazimnya seorang muslim.


Pembangunan jaringan muslim moderat ini dilakukan melalui tiga level, yaitu:
(a) menyokong jaringan-jaringan yang telah ada;
(b) identifikasi jaringan dan gencar mempromosi kemunculan serta pertumbuhannya;
(c) memberikan kontribusi untuk bangun situasi & kondisi bagi berkembangnya sikap toleran dan faham pluralisme.


Sebagai pelaksana proyek,
Departemen Luar Negeri AS dan USAID telah memiliki mandat dan menunjuk kontraktor pelaksana penyalurkan dana dan berhubungan dengan berbagai LSM, dan para individu di negeri-negeri muslim yaitu
National Endowment for Democracy (NED),
The International Republican Institute (IRI)
The National Democratic Institute (NDI),
The Asia Foundation (TAF), dan
The Center for Study of Islam and Democracy (CSID).


Pada fase pertama, membentuk jaringan muslim moderat difokuskan pada organisasi bawah tanah, dan kemudian setelah melalui penilaian AS selaku donatur, ia bisa ditingkatkan menjadi jaringan terbuka.

Adapun kelompok-kelompok yang dijadikan sasaran perekrutan dan anak didik adalah :
(a) akademisi dan intelektual muslim liberal dan sekuler;
(b) cendikiawan muda muslim yang moderat;
(c) kalangan aktivis komunitas;
(d) koalisi dan kelompok perempuan yang mengkampanye kesetaraan gender;
(e) penulis dan jurnalis moderat.


Para pejabat Kedutaan Amerika di negeri2 muslim harus pastikan bahwa kelompok ini terlibat, dan sesering mungkin melakukan kunjungan ke Paman Sam.

Adapun prioritas pembangunan jaringan untuk muslim moderat ini diletakkan pada sektor:
(a) Pendidikan Demokrasi. mencari pembenaran nash dan sumber2 Islam terhadap demokrasi & segala sistemnya; (b) dukungan oleh media massa melakukan liberalisasi pemikiran, kesetaraan gender dan lainnya -- yang merupakan "medan tempur" dalam perang pemikiran melawan Islam;
(c) Advokasi Kebijakan. Hal ini untuk mencegah agenda politik kelompok Islam.


AS & sekutu sadar bahwa ide2 radikal berasal dari Timur Tengah dan perlu dilakukan "arus balik" yaitu menyebarkan ide & pemikiran dari para intelektual moderat & modernis yg telah berhasil dicuci otak dan setuju westernisasi yang bukan berasal dari Timur Tengah, seperti Indonesia dan lainnya. Tulisan dan pemikiran moderat dari kalangan di luar Timur Tengah harus segera diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, kemudian disebarkan di kawasan Timur Tengah.

Agaknya inilah jawaban, kenapa Indonesia seringkali dijadikan pertemuan para cendikiawan dan intelektual muslim dari berbagai negara yang disponsori AS dan negara Barat lain. Banyak produk baik tulisan maupun film diproduksi "Intelektual Islam Indonesia", kemudian disebarkan dan diterjemahkan dalam bahasa Arab. Semua bantuan dana dan dukungan politik ini tujuannya guna memecah-belah umat Islam.

Seperti berkembang banyak LSM memproduk materi2 dakwah atau fatwa namun isinya justru "menjerumuskan" Islam, termasuk munculnya banyak tokoh liberal sebagai opinion maker di tengah masyarakat, merupakan isyarat bahwa konspirasi menghancur Islam itu ada, nyata dan berada (existence). Yang paling memprihatinkan, justru jurus pecah belah dilakukan menggunakan tangan-tangan (internal) kaum muslim itu sendiri di negara tempat mereka lahir, tumbuh dan dibesarkan, sedang mereka "tak menyadari" telah menjadi penghianat bagi bangsa, negara & agamanya!

(IRIB Indonesia/theglobalreview/PH)


Daftar Bacaan :
http://en.wikipedia.org/wiki/Smith_Richardson_Foundation
http://www.rand.org/
http://www.dni.gov/nic/NIC_globaltrend2020.html
http://arashirin.wordpress.com/2007/12/22/jangan-terjebak-politik-belah-bambuislam-moderat-islam-radikal/
http://www.rand.org/pubs/monographs/MG574.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Douglas_Aircraft_Company
http://www.foreignaffairs.com/articles/60656/gideon-rose/mapping-the-global-future-report-of-the-national-intelligence-co
http://forum.detik.com/showpost.php?p=2819467&postcount=376

No comments: